Minyak Bumi, Bensin, dan Bilangan Oktana
Pada
saat ini minyak bumi merupakan bahan bakar fosil yang paling penting. Kebutuhan
akan minyak bumi untuk mempertahankan masyarakat industri berada tepat di
belakang kebutuhan akan pangan, udara, air, dan papan (perumahan). Apakah itu
emas hitam (julukan bagi minyak bumi) dan bagaiman kita memanfaatkannya?
Minyak bumi
(petroleum) ialah campuran rumit dari
hidrokarbon yang terbentuk selama ribuan tahun melalui perombakan berangsur
dari bahan hewani dan nabati yang terkubur. Minyak mentah (crude oil)
ialah cairan hitam yang terkumpul dalam kantong-kantong di bawah tanah dalam
batuan sedimen. Minyak dibawa ke permukaan dengan cara mengebor dan memompa.
Untuk membuatnya berguna, minyak mentah perlu dimurnikan terlebih dahulu.
Langkah
pertama dalam pemurnian minyak bumi biasanya adalah distilasi (penyulingan).
Minyak mentah dipanaskan sampai sekitar 400°C dan uapnya naik ke kolom
fraksinasi yang tinggi. Fraksi bertitik didih lebih rendah naik lebih cepat dan
lebih tinggi dalam kolom sebelum mengembun menjadi cairan; fraksi bertitik
didih lebih tinggi tidak naik setinggi itu. Fraksi bensin hanya menyusun
sekitar 25% dari minyak mentah. Padahal fraksi ini merupakan fraksi paling
berharga, baik sebagai bahan bakar maupun sebagai sumber bahan untuk industri
petrokimia, yaitu industri yang menyediakan serat sintetik, plastik, dan banyak
lagi material yang berguna bagi kita. Dengan alasan inilah banyak proses telah
dikembangkan untuk mengonversi fraksi lain menjadi bensin.
Fraksi
dengan titik didih lebih tinggi dapat “dikertak” (cracked) oleh kalor dan katalis (terutama silika dan alumina),
menghasilkan produk dengan rantai karbon yang lebih pendek dan karenanya titik
didihnya lebih rendah. Rantai karbon dapat putus di berbagai titik. Alkana
tertentu sedikitnya menghasilkan satu alkana dan satu alkena sebagai produknya.
Jadi, pengertakan katalitik mengonversi alkana yang lebih besar menjadi
campuran alkana dan alkena yang lebih kecil dan meningkatkan rendemen bensin
dari minyak bumi.
Sewaktu
pengertakan, banyak sekali gas hidrokarbon yang lebih rendah (etena, propena,
butana, dan butena) yang terbentuk. Beberapa di antaranya, terutama etena,
digunakan sebagai bahan baku petrokimia. Untuk memperoleh lebih banyak bensin,
para ilmuwan mencari metode untuk mengonversi hidrokarbon berbobot molekul
rendah menjadi hidrokarbon yang sedikit lebih besar yang mendidih dalam kisaran
bensin. Salah satu proses ini ialah alkilasi,
yaitu penggabungan alkana dengan alkena untuk membentuk alkana yang titik
didihnya lebih tinggi.
C2H6 + C4H8 C6H14
C4H10 + C4H8 C8H18
Proses
ini dikembangkan pada tahun 1930-an untuk menghasilkan bahan bakar pesawat
terbang selama Perang Dunia II dan sekarang masih digunakan untuk membuat
bensin dengan bilangan oktana yang tinggi untuk mesin mobil yang dikembangkan
lebih baik.
Ini
mengantarkan kita pada bilangan oktana
(octane number) dan mengapa hal ini
menjadi penting. Beberapa hidrokarbon, terutama yang strukturnya sangat
bercabang, terbakar dengan halus dalam mesin mobil dan menggerakkan piston
dengan merata. Hidrokarbon lain, terutama yang rantai karbonnya tidak bercabang
cenderung meledak-ledak di dalam silinder dan menggerakkan piston dengan kasar.
Ledakan tak diinginkan ini menghasilkan bunyi keras (ketukan, knock). Suatu skala telah dikembangkan
beberapa tahun lalu untuk mengevaluasi sifat ketukan yang penting dari bensin. Isooktana (2,2,4-trimetilpentana) yaitu
bahan bakar bagus dengan struktur yang bercabang, diberi bilangan oktana 100,
sedangkan heptana yaitu bahan bakar
mobil yang buruk, diberi bilangan oktana 0. Bensin “biasa” dengan bilangan
oktana 87 memiliki sifat “ketuk” yang sama seperti campuran yang terdiri atas
87% isooktana dan 13% heptana.
Sedikit
tetraetiltimbal, (CH3CH2)4Pb, dalam bensin
memperbaiki bilangan oktana tetapi tidak disukai karena alasan lingkungan dan
kebanyakan bensin sekarang tidak lagi mengandung timbal. Namun demikian, bensin
tanpa timbal harus mengandung hidrokarbon dengan bilangan oktana yang tinggi.
Jadi, perlu dikembangkan metode untuk mengonversi hidrokarbon berantai lurus
menjadi rantai bercabang sebab struktur bercabang ini memiliki bilangan oktana
yang tinggi.
Katalis
tertentu dapat menghasilkan alkana rantai bercabang dari alkana rantai lurus.
Proses ini disebut isomerisasi, yang dilakukan secara komersial dalam skala
besar.
CH3CH2CH2CH3
CH3CH(CH3)CH3
Hidrokarbon
aromatik, seperti benzena dan toluena, juga memiliki bilangan oktana yang
tinggi. Katalis platinum yang digunakan dalam proses yang disebut platforming
menyebabkan siklisasi dan dehidrogenasi alkana menjadi sikloalkana dan menjadi hidrokarbon
aromatik. Tentu saja banyak gas hidrogen yang terbentuk selama platforming.
Jutaan galon hidrokarbon aromatik dihasilkan setiap hari dari proses seperti
ini, tidak saja untuk menambah bensin tanpa-timbal untuk memperbaiki bilangan
oktananya, tetapi juga untuk memasok bahan baku untuk berbagai produk berdasar
minyak bumi.
Sumber:
Hart,
Hart Crain. 2003. KIMIA ORGANIK Suatu Kuliah Singkat Edisi Kesebelas. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Komentar
Posting Komentar