Pengolahan Air dan Kimiawi Enol/Enolat

 

Dalam suatu kota dengan penduduk sekitar 35 ribu, sekitar 5 miliar liter air PAM dialirkan ke rumah-rumah setiap tahunnya. Air ini biasanya dimurnikan sebelum digunakan, untuk menyingkirkan kontaminan seperti virus dan bakteri, bahan kimia organic termasuk pestisida dan herbisida, dan bahan kimia anorganik termasuk zat radioaktif. Kontaminan ini berasal dari berbagai industry dan sumber daya alam. Proses pembersihannya memerlukan beberapa langkah, termasuk penyingkiran material tak-larut air melalui pengendapan, koagulasi, dan penyaringan; pelunakan air menggunakan kapur (kalsium oksida) dan soda abu (natrium karbonat); penyesuaian pH menjadi 7,5-8,0 dengan karbon dioksida; dan disinfeksi dengan klorin (Cl2). Laporan mutu air umumnya menunjukkan bahwa air bersih yang dialirkan ke rumah-rumah telah benar-benar bersih; keton berhalogen α, asam karboksilat berhalogen, dan trihalometana adakalanya terdapat dalam konsentrasi yang sangat rendah akibat proses kimia yang dilakukan sewaktu pengolahan. Apa saja senyawa tersebut dan bagaimana mereka berada dalam air selama proses pengolahan?

Bila keton diolah dengan halogen (Cl2, Br2, I2), terjadilah halogenasi α. Enolisasi aseton ini diikuti oleh reaksi enol tersebut dengan klorin menghasilkan α-kloroaseton. Enol (atau enolat) dari aseton berperilaku sebagai nukleofili dan klorin berperilaku sebagai elektrofili dalam reaksi ini. Pengulangan proses ini selama beberapa kali menghasilkan senyawa poliklorin seperti 1,1,1-trikloroaseton. Keton terpoliklorin kemudian dapat menjalani reaksi lebih lanjut yang menghasilkan asam karboksilat berklorin dan kloroform. Karena aseton merupakan pelarut organic larut-air dan juga merupakan produk akhir dari metabolism lemak pada manusia dan hewan lain, tidaklah mengherankan mengapa senyawa ini muncul dalam unit pengolahan air. Jadi, kimiawi normal dari keton (melalui enol/enolatnya) yang terjadi sewaktu proses pengolahan air, mengakibatkan hadirnya senyawa orgnaik berklorin dengan jumlah rendah dalam air PAM. Jika seseorang berargumentasi mengapa pengolahan air PAM malah memasukkan senyawa yang berpotensi meracun, dapat dikatakan bahwa hal ini diimbangi dengan penyingkiran material lain yang bahkan lebih berbahaya.

 

Sumber:

Hart, Hart Crain. 2003. KIMIA ORGANIK Suatu Kuliah Singkat Edisi Kesebelas. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Komentar